Pencahayaan Rumah Dengan Skylight

December 29, 2014by Tata Griya InteriorTips Interior0

Beautiful-living-room-design-with-skylights-incorporated1.jpg?fit=600%2C424&ssl=1

Cuaca siang itu terik. Namun, suasana berbeda terasa di kediaman keluarga Gultom di bilangan Ciledug, Tangerang. Udara dengan sangat leluasa masuk ke dalam rumah, begitu pun cahaya matahari yang melimpah menyelimuti bagian dalam rumah. Meski tanpa nyala pengatur udara (air conditioning ), tak ada rasa panas yang menyengat.

“Dulu, sebelum direnovasi, rumah ini agak gelap. Pencahayaan dan sirkulasi udaranya kurang,” tutur Sang Empunya rumah, Ny. Gultom (52).

Setelah ketiga putra-putrinya beranjak dewasa, pasangan Gultom pun berniat merenovasi rumah tersebut. “Pengin suasana baru. Apalagi bapak sudah mau pensiun. Kami pengin punya rumah penuh cahaya dan memiliki sirkulasi udara yang baik,” lanjutnya. Sang Suami memang lebih sering berada di luar kota untuk urusan pekerjaaan dan hanya pulang ke Ciledug setiap akhir pekan.

Menurut Rabani Kusuma Putra, arsitek sekaligus Principal Architect (owner ) dari Atelier Iron, “Selain cahaya dan sirkulasi udara yang baik, pemilik juga menginginkan rumah nyaman untuk menghabiskan masa pensiun.”

Oleh Iron, panggilan akrab Rabani, konsep rumah pun diubah menjadi modern tropis dengan sentuhan tradisional pada beberapa elemen. “Bagaimanapun, rumah ini milik orangtua, jadi saya harus mempertimbangkan itu,” jelasnya.

   

Skylight Menawan
Rumah ini banyak memiliki skylight atau pencahayaan alami, baik di lantai bawah maupun lantai 2. Yang paling menonjol adalah atap ruang makan dan atap tangga. Seluruh atap di atas ruang makan, menggunakan material kaca laminated yang mampu menyerap panas tanpa mengurangi intensitas cahaya yang masuk. Tak heran jika Gultom menjadikan area ini sebagai area favorit setiap kali pulang di akhir pekan dari tugas luar kotanya.

“Biasanya bapak suka berlama-lama di sini, duduk sendiri. Melalui skylight , bapak bisa menikmati bulan dan bintang di malam hari dan air hujan yang jatuh menimpa skylight ,” ujar Ny. Gultom yang mengaku teredukasi dari Sang Arsitek bahwa konsep rumah secara keseluruhan harus menyatu. “Mulai bentuk rumah sampai ke perabotan harus nyambung . Rumah yang dulu, kan, asal-asalan. Tidak ada temanya,” katanya sambil tertawa ringan.

Warna oranye dipilih sebagai warna pagar rumah karena pendekatannya memang natural. Menggunakan material i-brick yang dicat oranye, pagar rumah dibuat simpel tapi menarik.

“Selain untuk fungsi keamanan, pagar rumah juga dibuat berongga agar tidak terlalu masif,” lanjut arsitek lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang hobi menggebuk drum ini. “Pagar yang berongga juga membuat saya tetap terhubung dengan dunia luar,” timpal Ny. Gultom.(tabloid nova)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About us

logo-tata-griya2

Tata Griya Kontraktor Interior Melayani Perumahan, Perkantoran, dan Apartemen di Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo